• 0815-1959-2939
  • 100koperasibesar@gmail.com

Sambutan Menkop dan UKM

Mengurangi Kesenjangan Ekonomi Ditengah Masyarakat

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan karunia, nikmat sehat jasmani dan rohani, sehingga telah dapat diterbitkannya “Buku Koperasi Besar Indonesia Tahun 2017”. Gerakan Koperasi Indonesia kini sudah memasuki usia ke 70 tahun sejak pertama kali didirikannya Sentral Organisasi Koperasi Republik Indonesia pada 12 Juli 1947 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam  perjalanan tujuh dasa warsa, perkembangan usaha koperasi mengalami pasang surut yang melingkupinya. Tidak sedikit koperasi tumbuh secara profesional sesuai prinsip jatidiri, namun masih terdapat yang terjebak dengan paradigma masa lalu, hanya pasif menunggu program dan bantuan pemerintah.

Kementerian Koperasi dan UKM saat ini sedang berupaya untuk membenahi dan mentertibkan koperasi melalui aksi reformasi koperasi, meliputi 3 (tiga) tahap yaitu Rehabilitasi, Reorientasi dan Pengembangan.

Langkah pertama Rehabilitasi: kita lakukan karena jumlah koperasi yang cukup banyak, lebih dari 212.000 koperasi, hanya mampu menyumbang 1,7% pada tahun 2017 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selain itu lebih dari 30% mengalami mati suri dan hanya tinggal papan nama, sehingga kita lakukan rehabilitasi dengan memangkas lebih dari 62,000 koperasi yang ditengarai tidak aktif. Koperasi tersebut kita bubarkan dan dikeluarkan dari data base pemerintah agar tidak mengganggu koperasi lain yang masih aktif dan berproduksi. Sedangkan sisanya, 150.000 koperasi dibenahi dengan memberikan Nomor Induk Koperasi (NIK) agar kinerjanya terkontrol setiap saat. Dalam upaya menertibkan koperasi melalui pengawasan terpadu Kementerian Koperasi dan UKM membentuk Deputi Pengawasan. Ini merupakan langkah terobosan sebagai bukti keseriusan dalam menjaga integritas agar koperasi menjadi lembaga ekonomi terpercaya.

Langkah kedua adalah Reorientasi, yaitu upaya sistematis untuk mengubah paradigma dari pendekatan Kuantitas menjadi Kualitas. Langkah yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas koperasi yaitu Membangun Koperasi Berbasis Informasi Teknologi (IT) melalui kerja sama dengan Notaris dimana sudah dapat dilakukan penerbitan akta koperasi secara online. Proses pendirian koperasi semakin mudah, cepat, dan efisien. Koperasi juga difasilitasi untuk melakukan rapat anggota tahunan secara Online. Demikian juga dengan proses Ijin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK). Dalam Reorientasi juga dilakukan penguatan kelembagaan koperasi, serta mendorong koperasi untuk meningkatkan jumlah anggotanya. Sebab, koperasi merupakan kumpulan anggota sehingga harus terus meningkat jumlah keanggotaannya.

Langkah ketiga adalah Pengembangan, merupakan agenda permanen yang meliputi upaya mengkaji regulasi yang menghambat perkembangan koperasi; memperkuat akses pembiayaan dengan menyiapkan koperasi untuk menjadi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR); selanjutnya dikembangkan Koperasi Sektor Riil khususnya yang berorientasi ekspor, padat karya dan memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Koperasi perlu membangun bisnis model yang sesuai dengan tren digitalisasi. Dan Reformasi total koperasi melalui tiga kebijakan tersebut di atas adalah sebuah pemikiran untuk merancang ulang masa depan koperasi di Indonesia.

Tahun ini, ketika disrupsi ekonomi kian merebak, maka tiga langkah kebijakan reformasi total koperasi tersebut sungguh sangat relevan. Koperasi yang mendapat tempat terhormat dalam konstitusi negara (UUD 1945) tidak cukup hanya bangga dengan sebutan soko guru perekonomian tanpa mengikuti perkembang dewasa ini. Koperasi yang hanya bekerja dengan paradigma masa lalu harus siap-siap untuk tenggelam karena perubahan adalah keniscayaan.

Munculnya kembali Ranking 100 Koperasi Skala Besar dalam buku ini, mengindikasikan bahwa bisnis koperasi tidak seburuk yang disangka banyak pihak, tetapi ada pula sejumlah koperasi yang mampu menegaskan perannya sebagai entitas bisnis skala besar yang sejajar dengan pelaku ekonomi lainnya, swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dalam catatan pemerintah, dua tahun terakhir ini kiprah koperasi cukup menggembirakan, hal itu terlihat dari naiknya kontribusi terhadap PDB sebesar 3,99% dari semula hanya 1, 7% pada tahun 2013. Peningkatan ini merupakan pencapaian yang perlu diapresiasi karena buah manis dari sinergi para pemangku kepentingan di lingkungan koperasi.

Kendati acapkali mengalami berbagai kendala, seperti lemahnya akses modal, sumber daya manusia dan manajemen, namun dalam perkembangannya Koperasi telah memberi kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang sekaligus mengurangi angka kemiskinan. Penetrasi jaringan koperasi di tingkat akar rumput yang tersebar hingga seluruh pelosok Nusantara telah berperan dalam mendukung peningkatan akses keuangan masyarakat (financial inclusion). Selain itu, eksistensi Koperasi juga mengurangi tingkat kesenjangan di tengah masyarakat.

Buku ini dapat menjadi salah satu acuan untuk mengukur sejauh mana perkembangan koperasi secara riil karena didasarkan pada data akurat yang bersumber dari Laporan RAT Tahun Buku 2016. Kami memberikan apresiasi kepada penulis buku ini, yang dengan tekun dan sabar mengumpulkan data-data koperasi dari berbagai pelosok di tanah air. Teruslah berkarya dengan lebih baik untuk memberi manfaat bagi pengembangan koperasi di Indonesia. Semoga melalui buku ini dapat memacu sinergi antar koperasi dalam skala nasional maupun global.

Jakarta,     Oktober 2017                                                                                            

Menteri Koperasi dan UKM

Puspayoga

522 Total kunjungan 2 Hari ini