• 0815-1959-2939
  • 100koperasibesar@gmail.com

Parameter

Bagaimana mengukur kinerja koperasi yang layak masuk kategori besar? Jika mengacu  pada penetapan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Koperasi dan UKM No 07/Per/M-KUKM/XI/2012 , maka parameter  pokoknya bermuara pada tiga kriteria yakni pencapaian aset minimal Rp 10 miliar, omzet atau volume usaha  minimal  Rp 50 miliar dan jumlah anggota lebih dari 1.000 orang. Acuan itu kami jadikan sebagai standar penilaian utama selain parameter lainnya yang  dapat menambah bobot kriteria 100 KBI. Parameter pendukung lainnya adalah pelayanan, partisipasi anggota, manajemen, penerapan teknologi informasi, kepedulian terhadap lingkungan, dan audit keuangan.

Berdasarkan hasil survey yang kami lakukan, koperasi yang mampu menembus kriteria Permenkop dan UKM No 07/Per/M-KUKM/XI/2012 itu telah melampaui angka 100 yang kami tetapkan dalam penulisan buku ini. Karenanya selain 100 KBI, juga kami sertakan 100 lainnya yang tidak  masuk dalam jajaran 100 KBI  walaupun kriteria pokoknya telah terpenuhi.  Untuk urutan 101-200 koperasi besar lainnya kami cantumkan dalam jajaran 100 Koperasi Progresif. Sedangkan urutan 201-300 koperasi besar lainnya  dalam 100 Koperasi Potensial.

Pencantuman  angka maupun kinerja serta kriteria manajemen 100 KBI ini mengacu pada data resmi Laporan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2014 masing-masing koperasi dan data penunjang lainnya. Tim penulis telah melakukan usaha  maksimal  untuk mengumpulkan data dari  berbagai  koperasi yang beroperasi di seluruh Indonesia. Namun  hasilnya belum sepenuhnya memuaskan lantaran keterbatasan, waktu dan kendala teknis lainnya dalam penyusunan buku ini.  Boleh jadi  masih ada koperasi besar yang tidak tercantum dalam pemeringkatan ini karena data yang dibutuhkan tidak diterima secara lengkap. Selain itu, ada pula koperasi besar yang memang tak bersedia dicantumkan dalam ranking 100 ini, alasannya beragam namun kebanyakan khawatir diburu oleh petugas pajak.

Analisis data pemeringkatan 100 KBI menggunakan pendekatan kuantitatif. Masing-masing parameter yang digunakan diberikan bobot secara proporsional, sebagai berikut.

parameter

Pemberian bobot terbesar pada omzet atau volume usaha didasarkan pada semangat koperasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Hal ini hanya dapat tercapai jika koperasi memacu skala usaha yang diukur dari omzet. Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, omzet didefinisikan sebagai jumlah uang hasil penjualan barang (dagangan) tertentu selama suatu masa jual.  Sedangkan penggunaan parameter jumlah anggota dengan bobot 10% karena keunikan kelembagaan koperasi yang merupakan kumpulan orang bukannya kumpulan modal.  Oleh karena itu, peran anggota sangat menentukan dalam kemajuan usaha koperasi. Adapun parameter lainnya kami cantumkan sebagai upaya untuk memacu kinerja pengelola koperasi   agar lebih piawai menata organisasi dan mampu menyiapkan  laporan keuangan yang transparan.

Nah inilah profil 100 Koperasi Besar, 100 Koperasi Progresif dan 100 Koperasi Potensial Indonesia.

2572 Total kunjungan 1 Hari ini