• 0815-1959-2939
  • 100koperasibesar@gmail.com

Koperasi Kredit, Mengayuh di Tengah Sejarah

Koperasi Kredit, Mengayuh di Tengah Sejarah

Diambil dari bahasa Latin “credere” yang artinya percaya dan “union/unus” berarti kumpulan, “credit union” bermakna kumpulan orang yang saling percaya. Dalam suatu ikatan pemersatu, mereka sepakat menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal-bersama untuk dipinjamkan kepada anggota dengan tujuan produktif dan kesejahteraan. Dalam mendanai pinjaman, Credit Union (CU) lebih mengandalkan simpanan tabungan dan saham para anggota daripada menggunakan sumber keuangan luar.

Induk Organisasi CU dunia World Council of Credit Unions (WOCCU) merumuskannya, “Koperasi jasa keuangan bertujuan tidak mencari keuntungan, kepemilikannnya dimiliki anggota, menyelenggarakan tabungan, pinjaman dan pelayanan keuangan lainnya kepada para anggotanya. Keanggotaan CU berdasarkan pada ikatan kebersamaan, merupakan sebuah pertalian hubungan antara penabung dan peminjam yang sama-sama menjadi anggota komunitas organisasi, lembaga keagamaan atau kesatuan tempat kerja”.

historis kopdit 01

Kenapa CU didirikan? Gerakan yang mirip dengan CU pertama kali dimulai oleh para pekerja dan penenun Rochdale di England. Mereka membentuk koperasi konsumsi secara demokratis pada tahun 1840. Pada tahun 1852 dan 1864, koperasi ini dikembangkan oleh Hermann Schulze-Delitzsch dan Friedrich Raiffeisen menjadi gerakan Credit Union di Jerman.

Krisis ekonomi melanda Jerman akibat gagal panen pada 1846-1847. Musibah kelaparan rakyat jadi kian mencekam dengan datangnya musim dingin yang hebat. Petani tidak berdaya sama sekali. Oleh pejabat lokal bernama Henry Wolff, kondisi petani saat itu digambarkannya sebagai “Dunia tak berpengharapan”. Warga desa bermigrasi secara besar-besaran ke kota untuk mempertaruhkan nasib demi kemungkinan memperoleh penghidupan yang lebih baik.

Apakah itu jalan ke luar? Di kota, mereka bukanya makin sejahtera, melainkan makin sengsara. Kebanyakan hanya bekerja sebagai kuli bagi kaum kaya dengan upah seadanya dan jauh dari imbalan yang layak. Alhasil, jurang antara yang kaya dan yang miskin makin menganga. Yang miskin tetap termarginalkan dan yang kaya semakin kaya. Kondisi hidup buram petani menimbulkan keprihatinan dan menggugah Friedrich Wilhelm Raiffeisen, Walikota Flammersfield pada tahun 1849.

Dikumpulkanlah 60-an pengusaha, kaum kaya dan dermawan, lalu didirikan Perkumpulan Masyarakat Flamersfeld. “Kaum miskin harus segera ditolong,” kata Raiffeisen yang ditanggapi positif oleh perkumpulan ini. Dana yang terhimpun lalu disalurkan kepada para petani miskin. Celakanya, mereka menyalahgunakannya untuk tujuan nonproduktif. Buntutnya, wajar jika para donatur enggan melanjutkan hibah uang mereka yang ternyata disia-siakan.

Namun Friedrich Wilhelm Raiffeisen tidak patah arang. Ia muncul dengan ide mengumpulkan roti dan membentuk paguyuban Brotveiren, kelompok yang membagi-bagikan roti kepada kaum miskin. Raiffeisen juga mendirikan pabrik roti, untuk dijual dengan harga murah kepada orang yang tidak mampu. Raiffeisen juga membentuk perkumpulan yang bertugas meminjamkan uang dan membeli bibit kentang kepada petani.

Pindah ke Heddersdoff dan menjabat lagi menjadi walikota (1852-1865), di kota ini Raiffeisen mendirikan perkumpulan bernama Heddesdorfer Welfare Organization, yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Upaya Reiffeisen menyempurnakan gagasannya mengenai prinsip dan metode pengorganisasian masyarakat membuahkan perubahan pendekatan: dari model derma dan belas kasihan (charity) menjadi prinsip menolong diri sendiri (selfhelp).

Raiffeisen yakin benar ada hubungan antara kemiskinan dan ketergantungan. Untuk menghapus kemiskinan, seseorang harus melawan ketergantungannya. Agar bebas dari ketergantungan pemberian, dari politik dan dari tengkulak, Pak Walikota ini mempopulerkan formula Tiga S: self-help, self-governance, self-responsibility (menolong diri, memerintah diri, bertanggungjawab atas diri sendiri).

Pendekatan ini sukses. Raiffeisen sampai pada kesimpulan penting. Di antaranya, sumbangan tidak menolong kaum miskin, tetapi sebaliknya merendahkan martabat manusia penerimanya; kemiskinan disebabkan oleh cara berpikir yang keliru; pinjaman harus digunakan untuk tujuan produktif; jaminan peminjam adalah watak peminjam. Tahun 1864 Friedrich Wilhelm Raiffeisen mendirikan sebuah organisasi petani berama “Heddesdorfer Credit Union. Untuk menjadi anggota, seseorang dintuntut berwatak baik, rajin, dan jujur.

Sejak saat itulah perlahan-lahan Credit Union berkembang ke berbagai negara diluar Jerman seperti Italia, Prancis, Austria, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat. Di Italia, selain memasyarakatkan CU, Luigi Luzzati juga menulis buku masyhur “Dio Nella Libertà” (God in Freedom), yang membahas tentang pentingya toleransi beragama. Langkah Luigi Luzzati diikuti oleh ekonom dan politisi Leone Wollemborg (1859- 1932), yang mendirikan Bank Cooperation pertama di Lorreggia, Italia, tahun 1883.

Di Kanada, CU dipopulerkan oleh Gabriel-Alphonse Desjardins (1854- 1920), wartawan keturunan Prancis setelah dia berkonsultasi dengan Henry W. Wolff, Charles Rayneri (direktur banque populaire di Merton, Perancis) dan Luigi Luzzatti.

Desjardins merupakan orang pertama dalam gerakan CU yang merevisi dan mengganti sebutan “bank” yang digunakan untuk CU di Eropa menjadi “Caisse”.

Desjardins berkeyakinan, sesungguhnya CU bukan bank, melainkan perkumpulan orang-orang yang bersama mengelola secara mandiri tentang kredit.

Gerakan CU di negeri Paman Sam dikibarkan oleh Edward Albert Filene (1860- 1937), pengusaha dan wirausaha sosial yang dermawan. Keturunan Yahudi kaya dari Boston ini pemilik pusat usaha perkulakan. Bekerjasama dengan Alphonse Desjardins dan Piere, Albert Filene mendirikan CU di Amerika Serikat.

Sampai akhir hayat Friedrich Wilhelm Raiffeisen, tahun 1888, di Jerman sudah terdapat 425 CU. Sukses Heddesdorfer Credit Union dicapai karena menjalankan tiga prinsip utama, yakni kemandirian (swadaya), setiakawan (solidaritas) dan penyadaran (pendidikan)—yang di kemudian hari didapuk menjadi prinsip dasar Credit Union secara universal.

Sampai saat ini, CU tumbuh subur dan berkembang di 103 negara. Jumlahnya lebih dari 57.000 serikat kredit. Total anggotanya 208 juta orang. Sebagai asosiasi perdagangan yang sukses mengorganisasi diri pada tingkat internasional, WOCCU (World Council of Credit Union) dan anak perusahaan memiliki kantor pusat di Madison, Wisconsin. Selain dari itu, Dewan Dunia ini juga memiliki kantor tetap di Washington, DC, dan Kantor Program di seluruh dunia.

kopdit historis

Menyebar ke Indonesia

Perkenalan Indonesia dengan CU belum sampai setengah abad, yang ditandai dengan kelahiran CU Woga Lepo di Watubkapi, NTT, setahun mendahului lahirnya CU Kemuning di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 7 Desember 1970, yang 10 bulan kemudian, tanggal 20 Oktober 1970, disusul dengan berdirinya CU Swapada di Jakarta dan CU Cinta Mulia di Sumut. Hingga kini, CU Swapada masih eksis dengan segala romantikanya; adapun CU Kemuning sulit dilacak jejak dan keberadaannya.

Satu hal yang pasti, menyebut CU di Indonesia tidak terlepas dari sosok seorang bernama Carolus Albrecht, SJ alias Karim Arbie, pastor kelahiran Altusried, Augsburg, Jerman Selatan, 19 April 1929. Pria ini ditugaskan ke Indonesia pada Desember 1958. Mengawali masa baktinya di Girisonta, Jawa Tengah, selanjutnya ke Jakarta dan Semarang.

Gereja Katholik menyadari dan memandang pentingnya pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Karena itu, pastor Albrecht, SJ dan pastor Frans Lubbers, OSC ditugasi mengembangkan CU se-Indonesia bersama Delegasi Sosial (Delsos). Beragam cara dilakukan guna menyosialisasikan gerakan CU ini. Berkat perjuangan dan kerja keras Karim Arbie dan kawan-kawan, CU dipraktikkan secara intens di kantong-kantong tertentu wilayah Indonesia.

Terilhami oleh sukses Amerika, tahun 1969 diundanglah seorang Directors Excecutive WOCCU, Mr. Paddy Bailey, untuk membagi pengalaman negeri Paman Sam. Setelah pertemuan petinggi Dewan Dunia Koperasi Kredit itu dengan beberapa pemuka masyarakat, didiskusikanlah kemungkinan dikembangkannya gagasan CU di Indonesia sebagai sarana sekaligus wahana pengentasan masyarakat marginal. Sebagi tindak lanjut, beberapa orang mengadakan study circle secara perodik di Jakarta. Pembentukan wadah Credit Union Counselling Office (CUCO) disepakati pada awal Januari 1970. K. Albrecth Karim Arbie, SJ dipercaya menjadi pemimpin kegiatan operasionalnya.

Dari Konferensi Nasional Koperasi Kredit Indonesia yang digelar pada 1981, dibentuk organisasi baru bernama Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I). Dengan pergantian nama dan sifat organisasi menjadi Biro Konsultasi Koperasi Kredit (BK3) atau Credit Union Counselling Office (CUCO), biro inilah cikal bakal CU di Tanah Air, yang untuk level daerah dikenal dengan nama BK3D (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah).

Dalam rentang 45 tahun kehadiran  CU atau Kopdit di Indonesia penyebarannya memang masih belum menggembirakan. Kantong terbesar koperasi ini  bertumpu di tiga provinsi yaitu Sumatera Utara, Kalimantan (Barat) dan Nusa Tenggara Timur. Tabel 10 Kopdit Terbesar Tahun  Buku 2014 di bawah ini menunjukkan kuatnya dominasi Kopdit di tiga provinsi tersebut.   Kiprah kopdit di provinsi lainnya cukup menggembirakan seperti  Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera Selatan Lampung dan Jawa. Hingga 2014 tercatat  sebanyak 917 kopdit mengakumulasi aset sebesar Rp22,130 triliun, pinjaman beredar Rp 16,098 triliun dan anggota 2.530.720 orang. Gerakan Koperasi Kredit Indonesia menargetkan hingga 2020 mampu mematok jumlah anggota 10 juta orang.

10 Kopdit

1849 Total kunjungan 1 Hari ini
admin