• 0815-1959-2939
  • 100koperasibesar@gmail.com

Baitul Mal wa Tamwil, Untung Duniawi Tanpa Kerugian Ukhrowi

Baitul Mal wa Tamwil, Untung Duniawi Tanpa Kerugian Ukhrowi

Munculnya Baitul Mal wa Tamwil (BMT) sangat berkaitan dengan kehadiran Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada 1991. Sebagai bank yang mengejawantahkan prinsip-prinsip syariah, penetrasi BMI di tengah persaingannya dengan bank-bank konvensional jelas sangat terbatas. Khususnya dalam menjangkau luasnya sebaran usaha-usaha kecil dan menengah. Dalam kaitan ini, kecepatan tumbuh lembaga keuangan mikro BMT nyatanya jauh lebih progresif, bahkan dibanding ekspansi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah.

Guna mewujudkan keadilan dan efisiensi alokasi serta optimalisasi pemanfaatan sumber-sumber dana, setiap stratifikasi masyarakat seharusnyalah terwadahi dan terakomodasi. Perbankan konvensional yang cenderung kaku dengan pakem prudential banking principle-nya sulit dapat dioptimalkan untuk mampu menyentuh mayoritas masyarakat. Artinya, masih tersisa kelompok masyarakat yang tidak terfasilitasi dalam kebijakan dan upaya menggerakkan potensi ekonomi negeri ini.

Segmen masyarakat yang tidak ter-cover itu mencakup: mereka yang secara legal dan administratif tidak memenuhi kriteria perbankan; mereka yang bermodal kecil tapi memiliki keberanian mengambil risiko usaha—yang biasanya akan memilih berinvestasi di reksadana atau mutual fund; mereka yang bermodal besar dan berani mengambil resiko usaha—lazimnya memilih pasar modal atau investasi langsung; dan mereka yang menginginkan jasa keuangan non-investasi. Misalnya, pertanggungan terhadap risiko kekurangan likuiditas dalam kasus darurat, kebutuhan dana konsumtif jangka pendek, tabungan hari tua, dan sebagainya.

Historis BMT

Terbentur oleh regulasi yang membatasinya, perbankan memang tidak menawarkan produk-produk yang menjawab kebutuhan riil kelompok-kelompok ekonomi yang dimaksud. Patut diingat, ‘ekonomi’ secara bahasa berasal dari kata oikos (rumah tangga) dan nomos (mengatur); dengan tujuan memenuhi kebutuhan hidup melalui berbagai kegiatan/aktivitas ekonomi: produksi, distribusi, dan konsumsi. Sebagai alternatif investasi, segmen masyarakat tersebut lalu berpaling kepada jasa asuransi, pegadaian dan dana pensiun.

Sebagian orang mengenali BMT dengan sebutan Balai Usaha Mandiri dan Terpadu. Dalam kamus kontemporer Arab-Indonesia, baitul maal diartikan sebagai rumah dana/harta, dan baitut tamwil diartikan sebagai rumah usaha atau rumah pembiayaan. Baitul maal dikembangkan berdasarkan sejarah perkembangan Islam untuk mengumpulkan sekaligus men-tasyaruf-kan dana sosial. Sedangkan baitut tamwil merupakan lembaga bisnis yang bermotif laba. Jadi, di sini dimensi duniawi dan dimensi ukhrowi disinergikan dalam harmoni kesadaran transendens religiusitas.

Kegiatan BMT mencakup dua aspek yaitu; menghimpun dana (simpanan mudharabah) dan mendayagunakan dana (pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, bai’bi’saman ajil, dan alqardul hasan atau pinjaman kebijakan/bunga nol persen). Penghimpun dana ini mencakup simpanan murabahah biasa yang dapat ditarik sewaktu-waktu; simpanan mudharabah pendidikan; haji, kurban; Idul Fitri; akikah; walimah; perumahan; dan lain-lain yang, menurut Baihaqi Abd Madjid dan Syaifudin A. Rasyid, bisa dikembangkan menurut kecenderungan lingkungan setempat.

Dalam pelaksanaan pembiayaan, BMT syariah menempuh mekanisme bagi hasil sebagai pemenuhan kebutuhan permodalan (equity financing) dan investasi berdasarkan imbalan melalui mekanisme jual-beli (bai’) sebagai pemenuhan kebutuhan pembiayaan (debt financing). Jadi, setiap harta baik berupa tanah, bangunan, barang tambang, uang, komoditas perdagangan, maupun harta benda lainnya dimana kaum muslimin berhak memilikinya sesuai hukum syara’. Dewan pengawas syari’ah yang bertugas mengawasi operasional bank dari sudut syari’ahnya.

Pemilik dana menanamkan uang di BMT tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi keuntungan bagi hasil. Produk yang diperkenalkan terdiri dari: 1. Giro Wadiah, yaitu produk simpanan yang bisa ditarik kapan saja dengan bonus dari keuntungan pemanfaatan dana giro; 2. Tabungan Mudharabah, keuntungan atas dana yang disimpan dan dikelola BMT (sebagai mudharib) diberikan kepada nasabah (sebagai shahibul mal) berdasarkan kesepakatan nasabah; dan 3. Deposito Mudharabah. BMT dalam hal ini bebas melakukan dan mengembangkan berbagai usaha yang tidak bertentangan dengan syariah.

Dengan tiga prinsip pelaksanakan fungsinya sebagai  Baitut Tamwil, yaitu: prinsip bagi hasil; jual beli dengan keuntungan (mark-up); dan  non-profit/pembiayaan kebijakan, BMT adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadist. Khususnya menyangkut tata cara bermuamalat yang Islami. Fungsi BMT paling khas adalah penyangga (cushion) dan penyerap kerugian BMT bersangkutan.

Prinsip BMT menghimpun dan menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah-nya  harus bersifat spesifik, terutama dana yang bersumber dari zakat—karena ini sudah ditetapkan dalam nash, yaitu kepada 8 asnaf. Sedangkan dana di luar zakat dapat digunakan untuk pengembangan usaha orang-orang miskin, pembangunan lembaga pendidikan, masjid ataupun biaya-biaya operasional kegiatan sosial lainnya.

Aspek legal keberadaan BMT dibedakan menjadi dua. Untuk pengesahan akta pendirian koperasi jasa keuangan syariah primer dan sekunder yang anggotanya berdomisili di dua atau lebih provinsi, permohonan diajukan kepada Menteri c.q. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah—setelah mendapatkan rekomendasi pejabat pada tingkat kabupaten/kota tempat domisili koperasi yang bersangkutan.

Untuk pengesahan akta pendirian koperasi jasa keuangan syariah, baik koperasi jasa keuangan syariah primer maupun sekunder yang anggotanya berdomisili di beberapa kabupaten/kota dalam satu provinsi, permohonan diajukan kepada instansi yang membidangi koperasi tingkat provinsi yang membawahi bidang koperasi—setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang membawahi bidang koperasi pada kabupaten/kota tempat domisili koperasi yang bersangkutan.

Grafik positif yang ditunjukkan oleh gairah pertumbuhan populasi BMT dalam dua setengah dasawarsa ini membuktikan keefektifan lembaga keuangan mikro ini menjawab kebutuhan modal lunak secara lebih mudah di kalangan pelaku ekonomi UMKM. BMT tumbuh sebagai solusi tepat untuk mengatasi permasalahan keuangan yang dialami oleh kebanyakan pengusaha kecil. Tidak berlebihan jika dibilang, BMT mampu menjadi benteng kokoh perekonomian Indonesia, yang (jangan dilupakan) 98% pelakunya adalah mereka yang berkelindan di usaha mikro, kecil dan menengah.

Visi lembaga keuangan pro-grassroot dan ramah pelaku papan bawah ini mengarah pada upaya untuk mewujudkan BMT menjadi lembaga yang mampu meningkatkan kualitas ibadah anggota (ibadah dalam arti yang luas), sehingga mereka seutuhnya mampu memainkan peran sebagai khalifah pengabdi Allah SWT di muka bumi demi memakmurkan kehidupan insani, khususnya anggota dan masyarakat penerima manfaat pada umumnya.

10 KJKS

1436 Total kunjungan 1 Hari ini
admin